Akhirnya KKN juga, dan nggak maen-maen jauhnya….di DEMAK !!!…..Tapi memang ini KKN yang telah ku rancang hampir 1,5 tahun. Memimpin suatu tim yang beragam, dengan background anggota yang berbeda-beda memang suatu hal yang melelahkan, boleh dibilang menghabiskan seluruh energiku. Dan akhirnya sampailah aku pada proses ini. Proses KKN, berhadapan langsung dengan masyarakat. Masyarakat yang sangat berbeda dengan yang kubayangkan.

Masalah demi masalah mengalir deras seperti air bah yang menerjang, layaknya tsunami yang menerjang Aceh. But it’s ok, semuanya, biarpun tertatih, kami hadapi dengan penuh kesabaran. Romantika KKN mulai berhembus dibeberapa subunit, bahkan antar subunit. Semuanya berjalan seperti kereta yang mengejar jadwal keberangkatan. Fisik dan mentalku benar-benar diuji disini. Tapi ini benar-benar lahan pembelajaran hebat. Langsung berhadapan dengan realita, bukan konsep semata. Semua yang idealisme dan teoritikal yang ada di teks book benar-benar bisa terjungkal dan jika kita tidak dapat beradaptasi engan keadaan itu, maka kita sendirilah yang tersungkur.

Dan itu semua memberi pelajaran, bahwa dunia ini tidaklah sesederhana yang pernah kita pikirkan, namun juga tidak serumit yang kita bayangkan. Jauh dari rumah dan orang terkasih tentu saja membuat sepi menghampiri dengan segera. Namun canda tawa teman satu atap rumah dapat menepi segala kerinduan yang ada dihati. Mungkinkah ada disetiap tempat satu cahaya yang selalu terang? Aku yakin ada. Sesulit apapun yang terjadi tidak akan dapat menggoyahkan ikatan yang bernama persahabatan. Ikatan yang bahkan lebih erat dari sebuah ikatan percintaan. Aku melankoliskah dengan keadaan ini?

Mungkin iya, tapi itu semua proses dari pembelajaran kehidupan. Adakah pendidikan yang lebih baik daripada “Universitas Kehidupan”? Belajar hidup, berarti belajar saling memahami, saling memberi dan menerima, saling berbagi dan saling menguatkan satu sama lain dan saling mengingatkan satu sama lain. Karna memang seperti itulah seharusnya apa yang namanya hidup. Kadang kita merasa nyaman dengan zona yang kita bentuk, namun di KKN inilah aku merasa, semakin seseorang berada pada zona aman maka ia semakin lemah dalam menghadapi segala kemungkinan. Hanya orang-orang yang pernah berada pada zona kritis dan terlatih menghadapinyalah yang memiliki kekuatan mental yang jauh dibandingkan orang lain.

Dan aku pun belajar, bahwa aku harus mendaki tembok pikiran yang ada dibenakku. Bahwa aku harus mendakinya dan mengalahkan diriku hari demi hari. Agar aku semakin kuat, agar seluruh jiwa dan ragaku seirama dalam menghadapi hidup yang semakin sulit ini. Bukankan dalam kesulitan selalu ada kemudahan? Bisakah aku melindungi orang-orang yang kusayangi jika aku lemah? Tentu saja tidak…………

Sudah waktunyan aku bangun dan berlari menyongsong hari nanti……………… 🙂

Hehehe……btw menahan rindu memang suatu kesenangan sendiri …. 🙂

Iklan