Aku kembali menapaki jalan ini. Ya, jalan menuju pulang yang jauh memutar. Sudah sejak seminggu lalu aku melalui jalan ini. Sebelumnya aku selalu menyeberang di lapangan sepakbola yang ada di tepi jalan ini. Jalan singkat menuju rumah. Setelah melewati semak kecil terus lurus dan akhirnya tembus sampai rumah. Namun tidak untuk seminggu ini. Aku memilih jalan yang memutar, lebih jauh memang, tapi tak mengapa. Ada hal yang mengusikku beberapa minggu ini.

 

Di perempatan diujung jalan ini sejak tiga bulan yang lalu, ada seorang gadis penjual bunga. Entah mengapa, aku suka melihat wajahnya. Jilbab putihnya yang ia kenakan membuat ia semakin cantik. Dimataku ia seperti bidadari surga yang turun ke bumi. Apalagi saat dia tersenyum, aduhai betapa manisnya. Dan di keranjangnya hanya ada bunga mawar. Ya, hanya bunga mawar yang dijualnya, tiada lain dan tiada bukan. Dan selalu bunga mawar merah dan mawar putih. Hanya dua itu. Sudah seminggu ini aku selalu menemuinya. Dan sudah seminggu pula aku jadi pelanggan tetapnya. Sebenarnya aku hanya ingin melihat senyuman dan pancaran kebahagiaan diwajahnya. Hanya itu. Dan selalu saja setiap kubeli bunga mawar merah maka ia akan memberiku sekuntum bunga mawar putih secara cuma-cuma. Dalam hatiku berkata, mungkin ini karena aku aku membeli bunganya tiap hari.

 

Kemarin, saat kami berteduh dari gerimis hujan di emperan toko diujung jalan ini, tiba-tiba ia bertanya mengapa aku selalu membeli bunga mawar merah setiap hari. Aku jawab sekenanya, bahwa aku memang suka bunga yang berwarna merah. Padahal aku membeli bunga itu hanya karna ingin bertemu dengannya. Sedangkan warna merah, sebab aku tak ingin seorang pun tahu kalau aku membeli bunga mawar. Dan kebetulan warna dinding kamarku merah, sehingga bunga itu tidak kelihatan mencolok. Tentu saja aku tidak ingin dianggap aneh oleh teman se-kostku. Masak cowok menaruh bunga dikamarnya?

 

Aku pun balik bertanya kepadanya mengapa ia selalu memberikanku bunga mawar putih secara cuma – cuma setiap kali ku beli bunganya? Dan dengan tersenyum simpul ia menjawab tidak akan sempurna jika kamu selalu menginginkan mawar merah, kadangkala kamu juga harus memberikan yang putih juga. Jika disatukan barulah menjadi mawar yang sempurna. Dan ia kembali tersenyum. Ya, begitulah jawabannya. Sampai saat ini pun aku tidak mengerti tentang perkataannya tersebut. Mengapa mawar baru akan sempurna jika ada yan merah dan putih ? Bukankah sama saja, mawar tetaplah mawar walaupun warnanya merah atau putih?

 

Lalu aku pun bertanya kembali, mengapa ia hanya menjual mawar merah dan mawar putih ? kenapa tidak ada bunga yang lain. Ia menjawab di dunia ini hanya ada dua jenis bunga yang dapat menggambarkan hatinya dan bunga itu adalah mawar merah dan mawar putih. Di setiap yang ia lakukan harus memiliki makna, seperti halnya bunga yang ia jual. Hatiku pun terusik. Aku kembali tidak paham dengan jawabannya.Namun aku ingin lebih mengenal gadis ini. Aku kemudian bertanya siapakah namanya. Selama ini kami memang tidak pernah berkenalan satu sama lain. Kami berdua terlalu asik dengan diskusi kami. Dia kembali tersenyum dan sembari menatapku ia berkata bahwa tidak sopan menanyakan nama seseorang tanpa mengenalkan dirinya sendiri. Dan aku pun tersadar akan kekeliruanku, dengan segera kusodorkan tangan ku dan berkata,

 

“ Perkenalkan, nama saya Rusdi Adiwijaya, mahasiswa semester tujuh, jurusan farmasi di ITB, kost diujung jalan itu, Jalan Flamboyan no 7. Kalau boleh tahu, siapakah namamu?”

 

Ia kembali menatapku, kemudian dua telapak tangannya menangkup didepannya. Dan ia berkata,

 

“ Afwan, aku hanya penjual bunga. Jika ingin tahu namaku maka kembali besok kesini aku akan memberitahu namaku padamu.”

 

Dan karna saat itu hujan telah reda , dan ia berkata

 

“Maaf ya, aku harus pulang, duluan . Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam.”

Dengan berlari kecil, sambil membawa keranjangnya ia berlalu. Dari kejauhan kulihat dia berbelok di tikungan. Ada perasaan aneh yang menggelayutiku. Seolah ada yang hilang dari hatiku.

 

Dan hari ini aku akan menemuinya lagi, menagih janjinya padaku. Dengan perasaan senang, aku hampir sampai di perempatan itu. Heran, tak kulihat sesosok wanita yang mengusikku akhir-akhir ini. Emperan toko itu kosong. Sekosong hatiku saat ini. Dan aku pun menunggunya di emperan toko. Lima menit, lima belas menit dan satu jam berlalu. Masih juga tak kulihat dia. Aku semakin gusar. Mengapa ia tak datang ? Adakah dia sakit ? Perasaan kawatir menghinggapiku. Dan akhirnya Maghrib pun tiba. Dengan perasaan kecewa aku beranjak pulang. Mengapa ia tak menepati janjinya ? Mengapa ia tak datang ? Aku pulang ke kost dengan perasaan sedih bercampur keheranan.

 

Kubuka pintu kost. Tiba-tiba terjatuh dari sela pintu kostku sebuah kertas berwarna hijau muda. Sepertinya kertas itu terselip didekat pegangan pintu. Ku buka kertas itu disana tertera……

 

Assalamualaikum wr.wb.

Hai Akh Rusdi, afwan tidak dapat menemuimu sore ini, karna Bundaku sedang sakit. Ia harus dirawat inap dirumah sakit. Doakan agar beliau cepat sembuh ya. Oh ya akh, namaku Cinta. Sekali lagi afwan.

Waalaikumsalam wr.wb.

c.u.

nb : masih mau beli bunga lagikah Akh?, insya allah minggu depan aku sudah berjualan lagi

 

Oh….jadi itu alasannya kenapa ia tak datang. Ada perasaan lega yang menghinggapiku. Tiba-tiba mataku tertuju pada bagian kecil dari kertas itu . Di sana tertulis, dengan huruf kecil,

 

“Cinta adalah seperti impian yang menuntun kehidupan seseorang. Ia adalah mimpi dan harapan yang sempurna. Namun kadang orang lupa bahwa cinta juga merupakan ketulusan dan keikhlasan dalam mencintai seseorang.”

Sekarang aku mengerti maksud dari kedua bunga mawar itu…….

Ah, aku merindukanmu Cinta, tak sabar rasanya menunggu seminggu lagi….

………..

(Kulihat mawar-mawar yang telah kubeli minggu lalu, ingin rasanya esok kubeli yang berwarna putih, yang berwarna “ketulusan”)

………………………………………………………………………………………………

 

 

Jogjakarta, 30 Oktober 2007

Untuk dia yang telah mengajariku arti dari ketulusan dalam mencintai

Iklan